Minggu, 20 Maret 2022

Rukun dan Pembatal Puasa

Berikut adalah rukun-rukun dalam puasa yang wajib untuk terlaksana ketika seseorang menjalankan ibadah puasa. Diantaranya;

1. Niat Sebelum Terbitnya Fajar Shodiq Setiap Hari

Dalilnya sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ;

إنما الأعمال بالنيات

“ Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya…” [HR. Bukhari dan Muslim]


Untuk puasa Ramadhan, maka niat puasa harus dilaksanakan sebelum terbitnya fajar shodiq, sebagaimana hadits Hafshah radhiyallahu anha ;

من لم يبيت الصيام قبل الفجر فلا صيام له

“ Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum terbitnya fajar, maka tidak ada puasa baginya.” [HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidz, An-Nasa’i, dan Ibn Majah. Lihat Bulughul Maram hadits no.675]

Dan berkata Imam Syafi’i rahimahullah ;

فَقَالَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا لَا يُجْزِي صَوْمُ رَمَضَانَ إلَّا بِنِيَّةٍ كَمَا لَا تُجْزِي الصَّلَاةُ إلَّا بِنِيَّةٍ وَاحْتُجَّ فِيهِ بِأَنَّ ابْنَ عُمَرَ قَالَ: لَا يَصُومُ إلَّا مَنْ أَجْمَعَ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ
 وَهَكَذَا أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ فَكَانَ هَذَا وَاَللَّهُ أَعْلَمُ عَلَى شَهْرِ رَمَضَانَ خَاصَّةً وَعَلَى مَا أَوْجَبَ الْمَرْءُ عَلَى نَفْسِهِ مِنْ نَذْرٍ أَوْ وَجَبَ عَلَيْهِ مِنْ صَوْمٍ، فَأَمَّا التَّطَوُّعُ فَلَا بَأْسَ أَنْ يَنْوِيَ الصَّوْمَ قَبْلَ الزَّوَالِ مَا لَمْ يَأْكُلْ وَلَمْ يَشْرَبْ

“ Telah berkata sebagian kawan kami : tidak cukup puasa Ramadhan kecuali dengan niat sebagaimana tidak cukup sholat kecuali dengan niat dan berhujjah dengan atsar Ibn Umar beliau berkata,” Tidak ada puasa kecuali untuk orang yang berniat sebelum fajar.” Dan demikianlah telah mengabarkan kepada kami Malik dari Nafi’ dari Ibn Umar. Dan maksud puasa disini adalah khusus di bulan Ramadhan dan puasa yang wajib atas seseorang seperti puasa nadzar atau yang memiliki hutang puasa. Adapun puasa sunnah maka tidak mengapa untuk berniat sebelum tergelincirnya matahari selama dia belum makan dan minum.” [Al-Umm Bab Ad-Dukhul fish Shiyam wal Khilaf alaihi]

2.Tidak Melakukan Pembatal Puasa
Berikut adalah beberapa hal yang bisa membatalkan puasa, diantaranya;

a. Makan dan minum secara sengaja
Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala ;

و كلوا و اشربوا حتى يتبين لكم الخيط الأبيض من الخيط الأسود من الفجر

“... dan makan minumlah hingga tampak bagimu benang yang putih dari benang yang hitam…” [QS Al-Baqarah : 187]

Adapun makan dan minum yang tidak sengaja maka tidak membatalkan puasa. Sebagaimana hadits Abu Hurairah marfu’ ;

من نسي و هو صائم فأكل أو شرب فليتم صومه فإنما أطعمه الله و سقاه

“ Barangsiapa yang lupa ketika berpuasa kemudian dia makan dan minum maka hendaknya dia sempurnakan puasanya, karena Allah Ta’ala sudah memberikan padanya makan dan minum.” [HR. Bukhari, Muslim]

b. Masuknya ‘ain ke dalam jauf 
Dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ;

بَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ، إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا

“ Dan berlebihanlah dalam istinsyaq kecuali kamu dalam keadaan puasa.” [HR. Abu Dawud dari Laqith ibn Shabrah radhiyallahu anhu]

Yang dimaksud ain adalah sesuatu yang terlihat oleh mata. Dan yang dimaksud al-jauf adalah kepala, perut, dalam telinga, qubul, dubur. Ini merupakan pendapat jumhur ahli fiqh, dimana ketika ada barang yang masuk ke dalam tubuh melalui lubang-lubang tubuh ( dalam istilah fiqh disebut al-manfadz al-maftuh ) maka membatalkan puasa. Imam Syafi’I berkata dalam al-Umm ;

وَإِنْ بَلَعَ حَصَاةً، أَوْ مَا لَيْسَ بِطَعَامٍ، أَوْ احْتَقَنَ، أَوْ دَاوَى جُرْحَهُ حَتَّى يَصِلَ إلَى جَوْفِهِ أَوْ اسْتَعَطَ حَتَّى يَصِلَ إلَى جَوْفِ رَأْسِهِ فَقَدْ أَفْطَرَ إذَا كَانَ ذَاكِرًا وَلَا شَيْءَ عَلَيْهِ إذَا كَانَ نَاسِيًا، وَإِذَا اسْتَنْشَقَ رَفْقُ فَإِنْ اسْتَيْقَنَ أَنَّهُ قَدْ وَصَلَ إلَى الرَّأْسِ أَوْ الْجَوْفِ فِي الْمَضْمَضَةِ وَهُوَ عَامِدٌ ذَاكِرٌ لِصَوْمِهِ أَفْطَرَ

“ Apabila ada kerikil atau sesuatu yang bukan makanan atau injeksi ( melalui dubur ) atau mengobati luka hingga sampai ke dalam tubuh atau bergurah dan masuk ke dalam kepala maka batal jika dia ingat -kalau sedang puasa- dan tidak batal jika dia lupa. Jika dia istinsyaq ( memasukkan air dalam hidung saat wudhu ) dan yakin bahwa air masuk dalam kepalanya atau masuknya air dalam tubuh saat berkumur sedangkan dia ingat bahwa dia puasa maka batal.” [ Al-Umm VIII/154 ]

Dan Imam Rofi’I menyebutkan bahwa yang dimaksud masuk ke dalam jauf adalah yang melalui lubang tubuh yantg terbuka : mulut, telinga ,(hidung), kemaluan, dubur [ Lihat Fiqh Manhajiy I/342 ], beliau mengatakan ;

و يشترط في الوصول ليفطر أمران أحدهما أن يكون في منفذ مفتوح

“ Dan syarat masuknya yang membatalkan puasa ada dua, salah satunya lewat lubang terbuka ( di tubuh )..” [Al-Muharrar hal. 367]

Dalil dalam hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Asy-Syiraziy dalam Al-Muhadzdzab ;

وان استعط أو صب الماء في اذنه فوصل الي دماغه بطل صومه لما روى لقيط بن صبرة رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلم قال " إذا استنشقت فابلغ الوضوء الا أن تكون صائما " فدل علي أنه إذا وصل إلى الدماغ شئ بطل صومه

“... apabila seseorang bergurah atau menuangkan air ke dalam telinganya dan masuk ke dalam maka batal puasanya karena riwayat Laqith ibn Shabrah radhiyallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda : kalau kau beristinsyaq ( memasukkan air dalam hidung ketika wudhu ) maka perbanyaklah dalam wudhu kecuali kamu dalam keadaan berpuasa. Maka hadits ini menunjukkan bahwa jika ada sesuatu yang masuk ke dalam tubuhnya maka batal puasanya.” Hadits riwayat Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasai dan dishahihkan oleh Imm Nawawi dala Al-Majmu’  [Al-Majmu VI/ 312]

c. Muntah secara sengaja
Dalilnya sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ;

من ذرعه قيء ) و هو صائم ) فليس عليه قضاء و إن استقاء فليقض

“ Barangsiapa yang muntah -sedangkan dia puasa- maka tidak perlu mengqadha dan bila dia berusaha untuk memuntahkan diri maka wajib qadha.” [HR. Abu Dawud dan Tirmidzi dari Abu Hurairah]

d. Bersetubuh secara sengaja
Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala ;

و لا تباشروهنّ و أنتم عاكفون في المساجد

“...dan jangan kalian berhubungan badan sedang kalian dalam kondisi i’tikaf..” [QS Al-Baqarah : 187]

Apabila bersetubuh secara tidak sengaja atau lupa maka tidak perlu kaffarah tapi tetap batal puasanya. Sebagaimana yang dikatakan Imam Syafi’I ;

وَإِنْ جَامَعَ نَاسِيًا لِصَوْمِهِ لَمْ يُكَفِّرْ وَإِنْ جَامَعَ عَلَى شُبْهَةٍ مِثْلَ أَنْ يَأْكُلَ نَاسِيًا فَيَحْسِبُ أَنَّهُ قَدْ أَفْطَرَ فَيُجَامِعُ عَلَى هَذِهِ الشُّبْهَةِ فَلَا كَفَّارَةَ عَلَيْهِ فِي مِثْلِ هَذَا

“ Kalau seseorang jima’ dalam keadaan lupa maka tidak perlu kaffarah. Dan jika dia jima’ dalam kondisi syubhat sebagaimana seseorang makan lupa sedangkan dia mengira dia telah batal puasanya kemudian berjima’ atas syubhat ini maka tidak ada kaffarah baginya.” [Al-Umm Bab Al-Jima’ fi Ramadhan]
 
e. Istimna
Istimna’ adalah mengeluarkan air mani dengan selain jima’ seperti karena berciuman, tangan, alat dan lainnya; dan bukan dengan melihat atau membayangkan kemudian keluar air mani. Dan ini termasuk yang membatalkan puasa diqiyaskan kepada jima’. Imam Syafi’I mengatakan ;

إنْ تَلَذَّذَ بِامْرَأَتِهِ حَتَّى يُنْزِلَ أَفْسَدَ صَوْمَهُ وَكَانَ عَلَيْهِ قَضَاؤُهُ وَمَا تَلَذَّذَ بِهِ دُونَ ذَلِكَ كَرِهْته وَلَا يَفْسُدُ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ

“ Kalau seseorang bermesraan dengan istrinya hingga dia mengeluarkan mani maka batal puasanya dan wajib baginya qadha, dan bila dia bermesraan dengannya meski tidak sampi keluar mani maka saya membencinya dan tidak membatalkannya. Wallahu A’lam.” [Al-Umm, Bab  Al-Jima’ fi Ramadhan wal Khilaf fihi]

f. Haidh dan nifas
Dalilnya adalah hadits Abu Sa’id al-Khudriy bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda tentang kekurangan wanita ;

أليس إذا حاضت لم تصل و لم تصم ؟

“ Bukankah wanita itu jika haidh tidak sholat dan puasa ?” [HR. Bukhari dan Muslim. Lihat Fiqh Manhajiy ( I/344 )]

Sedangkan nifas diqiyasakan dengan haidh.

f. Gila dan murtad
Keduanya merupakan pembatal puasa karena tidak sah ibadah kedunya. Adapun alasan gila tidak sah puasanya karena syarat seorang menjalankan ibadah salah satunya adalah akal. Maka orang gila tidak memenuhi syarat tersebut.

Adapun murtad maka juga batal puasanya karena syarat sahnya orang beribadah adalah Islam.

Adapun tidur, maka dia tidak membatalkan puasa secara mutlak, baik tidur sepanjang hari atau sebagian besar dari siang hari tersebut. Sedangkan untuk pingsan, maka jika pingsan tersebut terjadi sepanjang siang hari secara penuh (sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari) maka batal puasanya, namun jika ada sempat siuman meskipun sebentar, maka puasanya tidak batal.

Wallahu Ta'ala A'lam
Disadur dari buku Fiqh Ramadhan
Karya Abu Harits al-Jawi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar