Sebagaimana yang lazim dalam ibadah-ibadah lain, bahwa untuk kesempurnaannya diperlukan adab-adab tambahan disamping rukun-rukun dan syarat dalam ibadah tersebut. Demikian halnya dalam i'tikaf, hendaknya seorang mu'takif (orang yang beri'tikaf) memperhatikan pula adab-adab dalam i'tikaf. Diantaranya adalah;
1. Disunnahkan untuk orang yang beri’tikaf untuk menyibukkan diri dengan ketaatan dan ibadah. Dan tidak menyibukkan dirinya dengan dunia. Seperti dzikir, membaca al-Quran, shalat sunnah, ataupun muhasabah dan merenungi dosa-dosa.
2. Disunnahkan pula untuk berpuasa. Dan berpuasa untuk orang yang ber’itikaf adalah sunnah dalam madzhab Imam Syafi’i. Sebagaimana atsar dari Ibnu Abbas yang mauquf ;
ليس على المعتكف صيام إلا أن يجعله على نفسه
“ Tidak wajib atas orang yang beri’tikaf puasa kecuali dia wajibkan sendiri atas dirinya.” [HR. Ad-Daruquthniy dan Al-Hakim. Lihat Bulughul Maram no.721]
3. Disunnahkan i’tikaf dilakukan di masjid jami’ (masjid yang ditempati sholat jum’at). Namun kendati demikian jika tidak memungkinkan boleh saja dia i'tikaf di musholla / langgar.
4. Tidak melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat, makruh, atau bahkan maksiat. Cobalah ketika beri'tikaf, kita tinggalkan sejenak smartphone kita di rumah, dan benar-benar kita khusyuk bertaqorrub kepada Allah Ta'ala. Jangan sampai ketika kita di masjid, malah masih asyik bermain handphone atau ngobrol ngalor-ngidul dengan orang. Akhirnya habislah waktu tersebut untuk hal-hal duniawi semata.
5. Memperbanyak doa di malam hari Ramadhan dengan doa’ ;
اللهم إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“ Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemberi Maaf, maka maafkanlah aku.” [HR. Tirmidzi, An-Nasai, Ibn Majah. Lihat Bulughul Maram no. 724]
Wallahu Ta'ala A'lam
Disadur buku Fiqh Ramadhan
Karya Abu Harits al-Jawi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar