Kamis, 24 Maret 2022

Adab dan Sunnah Puasa

Perlu kita perhatikan, bahwasanya puasa bukan hanya semata tentang mengisi Ramadhan dengan tanpa dan minum saja. Ada banyak hikmah dan juga praktek ibadah lain yang bisa dijalankan selama Ramadhan. Oleh karenanya, hendaknya orang yang berpuasa juga memperhatikan sunnah-sunnah dan adab dalam berpuasa Ramadhan, diantaranya;

1. Menyegerakan Berbuka
Dalilnya hadits Sahl ibn Sa’d bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda ;

لا يزال الناس بخير ما عجلوا الفطر

“ Manusia akan dalam kebaikan selama dia menyegerakan berbuka.” [HR. Bukhari dan Muslim]

2. Berbuka Dengan Kurma Atau Air
Dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ;

إذا أفطر أحدكم فليفطر على تمر فإن لم يجد فليفطر على ماء فإنه طهور

“ Jika salah seorang dari kalian berbuka maka berbukalah dengan kurma, jika tidak ada maka dengan air karena itu adalah suci.” [HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Nasai, Ibn Majah, dan Ahmad. Disahihkan oleh Ibn Khuzaimah, Ibn Hibban, dan Hakim. Lihat Bulughul Maram hadits. 680 dari sahabat Salman ibn Amir Adh-Dhabbiy]

3. Sahur
Dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ;

تسحروا فإن في السحور بركة

“ Bersahurlah kalian karena didalamnya ada barokah.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Apabila makanan sudah terlanjur di mulut kemudian jelas baginya bahwa fajar shadiq telah terbit, maka wajib baginya mengeluarkan/ memuntahkan makanannya. Imam Syafi’I berkata ;

فَإِنْ طَلَعَ الْفَجْرُ وَفِي فِيهِ شَيْءٌ قَدْ أَدْخَلَهُ وَمَضَغَهُ لَفَظَهُ؛ لِأَنَّ إدْخَالَهُ فَاهُ لَا يَصْنَعُ شَيْئًا إنَّمَا يَفْطُرُ بِإِدْخَالِهِ جَوْفَهُ

“ Apabila fajar telah muncul sedangkan di mulutnya ada sesuatu dan mengunyahnya maka harus dimuntahkah, karena memasukkan sesuatu ke dalam mulut saja tidaklah berefek sesuatu, yang membatalkan puasa adalah ketika dia memasukkan ke dalam kerongkongannya.” [Al-Umm Bab Ma Yufthirush Shoim]

Termasuk kesalahan beberapa kaum muslimin adalah ketika mendengar adzan sedangkan makanan sahur masih di mulutnya, maka dia pun menelannya dan menyelesaikan makan sahurnya. Dengan alasan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ;

إذا سمع أحدكم النداء و الإناء في على يده فلا يضعه حتى يقضي حاجته منه

“ Apabila salah seorang kalian mendengar seruan adzan sedangkan wadah makanannya masih di tangannya maka jangan dia taruh hingga selesai hajatnya -makannya-.” [HR Abu Dawud disahihkan Al-Albani] 

Ini merupakan istinbath hukum  yang tidak sesuai, yang mana hadits ini bersifat umum, baik seseorang itu berpuasa atau tidak. Akan tetapi ada dalil khusus lain yang mengecualikan bagi orang yang sahur (puasa) dalilnya firman Allah Ta’ala ;

و كلوا واشربوا حتى يتبين لكم الخيط الأبيض من الخيط الأسود من الفجر

“...dan makan minumlah kalian hingga tampak benang putih dari benang hitam (fajar)…” [QS Al-Baqarah : 187]

Berkata Imam Nawawi ;

و لو طلع الفجر و في فمه طعام فلفظه صح صومه ، و كذا لو كان مجامعا فنزع في الحال فإن مكث بطل

“ Kalau fajar muncul dan  makanan masih di mulutnya kemudian dia muntahkan maka sah puasanya. Demikian orang yang jima’ jika dia mencabutnya. Jika berhenti maka batal puasanya.” [Al-Minhaj : 182]

4. Mengakhirkan Sahur
Dalilnya sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ;

لا يزال أمتي بخير ما عجلوا الإفطار و أخروا السحور

“ Umatku dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur.” [HR. Ahmad. Lihat Fiqh Manhajiy ( I/347 )]

Imam Syafi’i mengatakan ;

وَاسْتُحِبَّ التَّأَنِّي بِالسُّحُورِ مَا لَمْ يَكُنْ فِي وَقْتٍ مُقَارِبٍ يَخَافُ أَنْ يَكُونَ الْفَجْرُ طَلَعَ فَإِنِّي أُحِبُّ قَطْعَهُ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ

“ Dan disunnahkan untuk mengakhirkan sahur selama waktunya tidak terlalu berdekatan dengan munculnya fajar, sesungguhnya aku menyukai seseorang mengakhiri sahurnya sebelum waktu tersebut.” [Al-Umm idem]

5. Tidak Berkata Buruk
Dalinya sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ;

من لم يدع قول الزور و العمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه و شرابه

“ Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan beramal dengannya maka Allah tidak butuh kepada puasanya.” [HR. Bukhari dari sahabat Anas ibn Malik]

6. Tidak Melakukan Hijamah dan Fashd
Karena hal ini bisa menyebabkan lemahnya orang yang berpuasa. Imam Syafi’i mengatakan ;

قَالَ الشَّافِعِيُّ) : فَقَالَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا: لَا بَأْسَ أَنْ يَحْتَجِمَ الصَّائِمُ وَلَا يُفْطِرُهُ ذَلِكَ (قَالَ الشَّافِعِيُّ) : أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ كَانَ يَحْتَجِمُ وَهُوَ صَائِمٌ ثُمَّ تَرَكَ ذَلِكَ (قَالَ الشَّافِعِيُّ) : وَأَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ لَمْ يَرَ أَبَاهُ قَطُّ احْتَجَمَ وَهُوَ صَائِمٌ
قَالَ الشَّافِعِيُّ) : وَهَذَا فُتْيَا كَثِيرٍ مِمَّنْ لَقِيت مِنْ الْفُقَهَاءِ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَنَّهُ قَالَ: أَفْطَرَ الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُومُ  -وَرُوِيَ عَنْهُ- أَنَّهُ احْتَجَمَ صَائِمًا
قَالَ الشَّافِعِيُّ) : وَلَا أَعْلَمُ وَاحِدًا مِنْهُمَا ثَابِتًا وَلَوْ ثَبَتَ وَاحِدٌ مِنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قُلْت بِهِ فَكَانَتْ الْحُجَّةُ فِي قَوْلِهِ، وَلَوْ تَرَكَ رَجُلٌ الْحِجَامَةَ صَائِمًا لِلتَّوَقِّي كَانَ أَحَبَّ إلَيَّ، وَلَوْ احْتَجَمَ لَمْ أَرَهُ يُفْطِرُهُ

“ Berkata Imam Syafi’i : Berkata beberapa sahabat kami ; tidak masalah seorang yag berpuasa untuk berbekam dan tidaklah batal  puasanya. ( Berkata Imam Syafi’i) : mengabarkan kepada kami Malik dari Nafi’ dari Ibn Umar bahwasanya beliau pernah berbekam dalam keadaan puasa kemudian meninggalkannya. (Berkata Imam Syafi’i) : telah mengabarkan kepada kami Malik dari Hisyam ibn Urwah dari ayahnya bahwasanya beliau tidak pernah melihat ayahnya berbekam dalam kondisi puasa. (Berkata Imam Syafii) : Dan ini adalah fatwa mayoritas ahli fiqh yang saya temui dan telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda ; (( Orang yang membekam dan dibekam batal puasanya.)) dan telah diriwayatkan pula dari beliau bahwa beliau pernah berbekam dalam kondisi berpuasa. (Berkata Imam Syafii) : dan saya tidak mengetahui kedua hadits tersebut shahih kalau seandainya shahih tentu saya akan berkata dengannya. Kalau seseorang meninggalkan hijamah ketika puasa sebagai bentuk kehat-hatian maka saya sukai, kalau dia berhijamah maka tidaklah batal.” [Al-Umm idem]

7. Berdo’a Sebelum dan Sesudah Berbuka
Adapun sebelum berbuka hendaknya seseorang memperbanyak do’a kepada Allah dengan kebaikan. Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda ;

ثلاثة لا ترد دعوتهم الإمام العادل و الصائم حين يفطر و دعوة المظلوم

“ Tiga doa yang tidak akan ditolak ; doa pemimpin yang adil dan orang yang berpuasa ketika akan berbuka dan doa orang yang terdzalimi..” [HR. Tirmidzi disahihkan oleh Al-Albani]

Dari sahabat Ibnu Umar beliau berkata ;

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال : ذهب الظمأ و ابتلت العروق و ثبت الأجر إن شاء الله

“ Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam jika selesai berbuka beliau mengatakan : telah pergi rasa haus dan urat-urat telah basah dan pahal telah ditetapkan insyaallah.” [HR. Abu Dawud dan Daruquthniy dan dihasankan oleh beliau]

8. Memberi Makan Buka Untuk Orang Yang Berpuasa
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda ;

من فطر صائمًا كان له مثل أجره غير أنه لا ينقص من أجر الصائم شيئًا

“ Barangsiapa yang memberikan buka orang yang berpuasa maka dia mendapat pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahalanya.” [HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh beliau. Lihat Fiqh Manhajiy ( I/348 )]

9. Memperbanyak Shodaqah dan Mempelajari Al-Qur’an
Dari Anas ibn Malik mengatakan ; Rasulullah pernah ditanya shadaqah apakah yang paling afdhal ? Beliau menjawab ;

الصدقة في رمضان

“ Shadaqah di Ramadhan.” [HR. Tirmidzi]

Dan juga bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya al-Qur’an maka hendaknya seseorang bersemangat untuk dekat dengan al-Qur’an ketika di bulan mulia ini.

9. Tidak Bercumbu Yang Mendatangkan Syahwat
Dalilnya hadits Aisyah radhiyallahu anha yang marfu’ ;

كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يقبلني و هو صائم و أيكم يملك إربه كما كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يملك إربه

“ Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dahulu menciumku sedangkan beliau berpuasa. Dan siapakah diantara kalian yang mampu menguasai syahwatnya sebagaimana beliau menguasai syahwatnya.” [HR. Muslim]

Imam Syafi’i mengatakan ;

وَمَنْ حَرَّكَتْ الْقُبْلَةُ شَهْوَتَهُ كَرِهْتهَا لَهُ، وَإِنْ فَعَلَهَا لَمْ يُنْقَضْ صَوْمُهُ وَمَنْ لَمْ تُحَرِّكْ شَهْوَتَهُ فَلَا بَأْسَ لَهُ بِالْقُبْلَةِ

“ Barangsiapa yang ciuman bisa membangkitkan syahwatnya maka aku memakruhkannya, jika dia melakukannya maka tidak membatalkan puasanya. Dan bagi orang yang ciuman tidak membangkitkn syahwatnya maka tidak mengapa.” [Al-Umm ( II/107 )]

Wallahu Ta'ala A'lam
Disadur dari buku Fiqh Ramadhan
Karya Abu Harits al-Jawi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar