Sabtu, 26 Maret 2022

I'tikaf, Hukum dan Syaratnya

I’tikaf dalam segi bahasa bermakna menetapi sesuatu. Dan dalam segi syariat adalah berdiam diri di masjid dengan niat yang khusus.

HUKUM DAN DALILNYA
I’tikaf hukumnya adalah sunnah di sepanjang waktu dan di bulan Ramadhan maka lebih ditekankan. Dalilnya firman Allah Ta’ala ;

Łˆ Ł„Ų§ ŲŖŲØŲ§Ų“Ų±ŁˆŁ‡Ł† Łˆ Ų£Ł†ŲŖŁ… Ų¹Ų§ŁƒŁŁˆŁ† ŁŁŠ Ų§Ł„Ł…Ų³Ų§Ų¬ŲÆ

“... dan janganlah kalian campuri mereka sedangkan kalian beri’tikaf..” [QS Al-Baqarah : 187]

Dan hadits Aisyah radhiyallahu anha ;

Ų£Ł† Ų§Ł„Ł†ŲØŁŠ ŲµŁ„Ł‰ Ų§Ł„Ł„Ł‡ Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ Łˆ Ų³Ł„Ł… ŁŠŲ¹ŲŖŁƒŁ Ų§Ł„Ų¹Ų“Ų± Ų§Ł„Ų£ŁˆŲ§Ų®Ų± Ł…Ł† Ų±Ł…Ų¶Ų§Ł† Ų«Ł… Ų§Ų¹ŲŖŁƒŁ Ų£Ų²ŁˆŲ§Ų¬Ł‡ Ł…Ł† ŲØŲ¹ŲÆŁ‡

“ Bahwasanya Nabi shallallahu alahi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan kemudian istri-istri beliau juga demikian sepeninggal beliau.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Dan I’tikaf juga bisa berhukum wajib apabila disertai dengan nadzar. Dalam I’tikaf nadzar maka seseorang harus menepati nadzarnya seperti beri’tikaf selama 3 hari. Kalau batal I’tikafnya sebelum sempurna bilangannya maka dia harus memulai dari awal. Berbeda dengan I’tikaf sunnah seperti di bulan Ramadhan, meski batal maka tidak ada kewajiban memulai dari awal atau qadha’. Termasuk pembatal I’tikaf wajib adalah keluar masjid tanpa keperluan yang mendesak, bersetubuh, atau berbuka ( bagi yang bernadzar I’tikaf sambil puasa ). Imam Syafi’I mengatakan ;

ŁˆَŲ„ِŲ°َŲ§ Ų®َŲ±َŲ¬َ Ų§Ł„ْŁ…ُŲ¹ْŲŖَŁƒِŁُ Ł„ِŲŗَŁŠْŲ±ِ Ų­َŲ§Ų¬َŲ©ٍ Ų§Ł†ْŲŖَŁ‚َŲ¶َ Ų§Ų¹ْŲŖِŁƒَŲ§ŁُŁ‡ُ
ŁˆَŲ„ِŲ°َŲ§ Ų£َŁْŲ·َŲ±َ Ų§Ł„ْŁ…ُŲ¹ْŲŖَŁƒِŁُ Ų£َŁˆْ ŁˆَŲ·ِŲ¦َ Ų§Ų³ْŲŖَŲ£ْŁ†َŁَ Ų§Ų¹ْŲŖِŁƒَŲ§ŁَŁ‡ُ Ų„Ų°َŲ§ ŁƒَŲ§Ł†َ Ų§Ų¹ْŲŖِŁƒَŲ§ŁًŲ§ ŁˆَŲ§Ų¬ِŲØًŲ§ ŲØِŲµَŁˆْŁ…ٍ ŁˆَŁƒَŲ°َŁ„ِŁƒَ Ų§Ł„ْŁ…َŲ±ْŲ£َŲ©ُ Ų„Ų°َŲ§ ŁƒَŲ§Ł†َŲŖْ Ł…ُŲ¹ْŲŖَŁƒِŁَŲ©ً

“ Dan jika orang yang beri’tkaf keluar tanpa suatu kebutuhan maka batal I’tikafnya, demikian juga jika dia berbuka atau bersetubuh maka dia memulai I’tikafnya dari awal jika I’tikafnya disertai dengan puasa demikian juga bagi wanita yang beri’tikaf.”  [Al-Umm Kitabul I’tikaf ( II/115 )]

SYARAT SAH I’TIKAF
1. Niat
Niat dimulai ketika seseorang memulai i’tikafnya. Adapun saat memulainya di bulan Ramadhan atau di bulan lain maka boleh memulainya kapan saja dan yang afdhal adalah memulai selepas sholat shubuh, sebagaimana hadits Aisyah ;

ŁƒŲ§Ł† Ų§Ł„Ł†ŲØŁŠ ŲµŁ„Ł‰ Ų§Ł„Ł„Ł‡ Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ Łˆ Ų³Ł„Ł… Ų„Ų°Ų§ Ų£Ų±Ų§ŲÆ Ų£Ł† ŁŠŲ¹ŲŖŁƒŁ ŲµŁ„Ł‰ Ų§Ł„ŁŲ¬Ų± Ų«Ł… ŲÆŲ®Ł„ Ł…Ų¹ŲŖŁƒŁŁ‡

“ Apabila Nabi shallallahu alaihi wa sallam ingin beri’tikaf maka beliau shalat shubuh kemudian menempati tempat i’tikafnya.”  [HR. Bukhari dan Muslim. Lihat Bulughul Maram hadits no. 718]

2. Berdiam Diri Di Masjid
Hendaknya tidak keluar dari masjid selama masa I’tikafnya kecuali untuk kebutuhan yang mendesak. Sebagaimana hadits Aisyah radhiyallahu anha yang marfu’ ;

Ų„Ł† ŁƒŲ§Ł† Ų±Ų³ŁˆŁ„ Ų§Ł„Ł„Ł‡ ŲµŁ„Ł‰ Ų§Ł„Ł„Ł‡ Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ Łˆ Ų³Ł„Ł… Ł„ŁŠŲÆŲ®Ł„ Ų¹Ł„Ł‰ Ų±Ų£Ų³Ł‡ - Łˆ Ł‡Łˆ ŁŁŠ Ų§Ł„Ł…Ų³Ų¬ŲÆ - ŁŲ£Ų±Ų¬Ł„Ł‡ Łˆ ŁƒŲ§Ł† Ł„Ų§ ŁŠŲÆŲ®Ł„ Ų§Ł„ŲØŁŠŲŖ Ų„Ł„Ų§ Ł„Ų­Ų§Ų¬Ų© Ų„Ų°Ų§ ŁƒŲ§Ł† Ł…Ų¹ŲŖŁƒŁŲ§

“ Adalah Rasulullah memasukkan kepalanya -sedang beliau di masjid- kemudian aku menyisir beliau dan tidaklah beliau tidaklah masuk rumah kecuali karena kebutuhan ketika beliau I’tikaf.” [HR. Bukhari dan Muslim. Lihat Bulughul Maram no.719]

Juga sebagaimana hadits Aisyah mauquf  ;

Ų§Ł„Ų³Ł†Ų© Ų¹Ł„Ł‰ Ų§Ł„Ł…Ų¹ŲŖŁƒŁ Ų£Ł† Ł„Ų§ ŁŠŲ¹ŁˆŲÆ Ł…Ų±ŁŠŲ¶ًŲ§ Łˆ Ł„Ų§ ŁŠŲ“Ł‡ŲÆ Ų¬Ł†Ų§Ų²Ų© Łˆ Ł„Ų§ ŁŠŁ…Ų³ Ų§Ł…Ų±Ų©ً Łˆ Ł„Ų§ ŁŠŲØŲ§Ų“Ų±Ł‡Ų§ Łˆ Ł„Ų§ ŁŠŲ®Ų±Ų¬ Ł„Ų­Ų§Ų¬Ų© Ų„Ł„Ų§ Ł…Ų§ Ł„Ų§ ŲØŲÆ Ł„Ł‡ Ł…Ł†Ł‡ Łˆ Ł„Ų§ Ų§Ų¹ŲŖŁƒŲ§Ł Ų„Ł„Ų§ ŲØŲµŁˆŁ… Łˆ Ł„Ų§ Ų§Ų¹ŲŖŁƒŲ§Ł Ų„Ł„Ų§ ŁŁŠ Ł…Ų³Ų¬ŲÆ Ų¬Ų§Ł…Ų¹

“ Yang sunnah bagi orang yang i’tikaf adalah tidak menjenguk orang sakit, tidak bertakziyah , tidak menyentuh atau bersetubuh dengan perempuan ( istri -red ), tidak keluar kecuali karena kebutuhan mendesak, dan tidak ada i’tikaf kecuali sambil berpuasa, dan tidak ada i’tikaf kecuali di masjid jami’.” 

Ini adalah bagi orang yang beri’tikaf wajib. Adapun I’tikaf sunnah, apabila memang suatu hal yang perlu untuk bertakziyah - seperti saudara atau gurunya - maka boleh. Imam Syafi’I berkata ;

ŁˆَŁ„َŲ§ ŁŠَŲ¹ُŁˆŲÆُ Ų§Ł„ْŁ…َŲ±ِŁŠŲ¶َ ŁˆَŁ„َŲ§ ŁŠَŲ“ْŁ‡َŲÆُ Ų§Ł„ْŲ¬ِŁ†َŲ§Ų²َŲ©َ Ų„Ų°َŲ§ ŁƒَŲ§Ł†َ Ų§Ų¹ْŲŖِŁƒَŲ§ŁًŲ§ ŁˆَŲ§Ų¬ِŲØًŲ§

“ Dan tidak boleh mengunjungi orang sakit atau bertakziyah bagi yang beri’tikaf wajib.”  [Al-Umm Kitabul I’tikaf]

3. Dilaksanakan Di Masjid
Termasuk hal yang perlu diketahui oleh kaum muslimin istilah masjid dari para ulama adalah tempat diadakannya sholat berjamaah atau untuk orang Indonesia ini dikenal dengan nama surau, musholla atau langgar. Adapun masjid jami’ adalah masjid yang ditempati untuk sholat jum’at. Imam Syafi’I berkata ;

ŁˆَŲ§Ł„ِŲ§Ų¹ْŲŖِŁƒَŲ§Łُ ŁِŁŠ Ų§Ł„ْŁ…َŲ³ْŲ¬ِŲÆِ Ų§Ł„ْŲ¬َŲ§Ł…ِŲ¹ِ Ų£َŲ­َŲØُّ Ų„Ł„َŁŠْŁ†َŲ§، ŁˆَŲ„ِŁ†ْ Ų§Ų¹ْŲŖَŁƒَŁَ ŁِŁŠ ŲŗَŁŠْŲ±ِŁ‡ِ ŁَŁ…ِŁ†ْ Ų§Ł„ْŲ¬ُŁ…ُŲ¹َŲ©ِ Ų„Ł„َŁ‰ Ų§Ł„ْŲ¬ُŁ…ُŲ¹َŲ©ِ

“ Dan I’tikaf itu di masjid jami’ dan kalau beri’tikaf di selainnya maka dari jum’at ke jum’at lainnya.” [Al-Umm Kitabul I’tikaf ( II/115 )]

Berkata Imam Nawawi ;

ŁŠَŲµِŲ­ُّ Ų§Ł„ِŲ§Ų¹ْŲŖِŁƒَŲ§Łُ ŁِŁŠ ŁƒُŁ„ِّ Ł…َŲ³ْŲ¬ِŲÆٍ ŁˆَŲ§Ł„ْŲ¬َŲ§Ł…ِŲ¹ُ Ų£َŁْŲ¶َŁ„ُ Ł„ِŁ…َŲ§ Ų°َŁƒَŲ±َŁ‡ُ Ų§Ł„ْŁ…ُŲµَŁ†ِّŁُ Ł‚َŲ§Ł„َ Ų§Ł„Ų“َّŁŠْŲ®ُ Ų£َŲØُŁˆ Ų­َŲ§Ł…ِŲÆٍ ŁˆَŲ§Ł„ْŲ£َŲµْŲ­َŲ§ŲØُ ŁˆَŲ£َŁˆْŁ…َŲ£َ Ų§Ł„Ų“َّŲ§ŁِŲ¹ِŁŠُّ ŁِŁŠ Ų§Ł„ْŁ‚َŲÆِŁŠŁ…ِ Ų„Ł„َŁ‰ Ų§Ų“ْŲŖِŲ±َŲ§Ų·ِ Ų§Ł„ْŲ¬َŲ§Ł…ِŲ¹ِ ŁˆَŁ‡ُŁˆَ ŲŗَŲ±ِŁŠŲØٌ Ų¶َŲ¹ِŁŠŁٌ ŁˆَŲ§Ł„ŲµَّŁˆَŲ§ŲØُ Ų¬َŁˆَŲ§Ų²ُŁ‡ُ ŁِŁŠ ŁƒُŁ„ِّ Ł…َŲ³ْŲ¬ِŲÆٍ Ł‚َŲ§Ł„َ Ų£َŲµْŲ­َŲ§ŲØُŁ†َŲ§

“ Dan I’tikaf sah dilakukan di semua masjid dan di masjid jami’ maka lebih utama sebagaimana yang disebutkan penulis. Berkata Syaikh Abu Hamid - Al-Ghazaliy - dan Imam Syafi’i mengisyaratkan di pendapat yang lama akan pensyaratan -I’tikaf- di masjid jami’ dan ini pendapat yang ghorib dan lemah. Dan yang benar adalah sah dilakukan di semua masjid sebagaimana yang diungkapkan oleh para ulama Syafi’iyyah.” [Al-Majmu’ ( VI/480 )]

Dalil pendapat ini adalah keumuman firman Allah Ta’ala ;

Łˆ Ł„Ų§ ŲŖŲØŲ§Ų“Ų±ŁˆŁ‡Ł† Łˆ Ų£Ł†ŲŖŁ… Ų¹Ų§ŁƒŁŁˆŁ† ŁŁŠ Ų§Ł„Ł…Ų³Ų§Ų¬ŲÆ

“ Dan janganlah engkau mengumpuli mereka sedangkan kalian beri’tikaf di masjid-masjid.” [QS Al-Baqarah]

Wallahu Ta'ala A'lam
Disadur dari buku Fiqh Ramadhan
Karya Abu Harits al-Jawi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar