Puasa secara bahasa berarti menahan dari suatu hal ; baik itu perkataan atau perbuatan sebagaimana ucapan Maryam ;
إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا
“ Sesungguhnya aku telah bernadzar kepada Ar-Rahman untuk berpuasa, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang pun pada hari ini.” [QS Maryam : 26]
Sedangkan dalam istilah fiqh puasa bermakna menahan diri dari segala pembatal puasa dari terbitnya fajar shodiq hingga terbenamnya matahari diiringi dengan niat. Artian yang lebih detail disampaikan oleh Ibnu Qosim Al-Ghozzi beliau berkata ;
إمساك عن مفطر بنية مخصوصة جميع نهار قابل للصوم من مسلم عاقل طاهر من حيض و نفاس
“ Menahan dari pembatal puasa dengan niat khusus di sepanjang hari yang bisa untuk berpuasa oleh seorang muslim, berakal, bersih dari haidh dan nifas.” [Hasyiyah Al-Baijuri ( I/573-574 )]
HUKUM PUASA
Adapun hukum puasa Ramadhan adalah wajib bagi setiap muslim dan muslimah dengan syarat-syarat. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala ;
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
“ Bulan Ramadhan dimana Al-Qur’an diturunkan di dalamnya sebagai petunjuk manusia dan penjelas dari petunjuk itu, maka barangsiapa yang mendapati bulan tersebut maka berpuasalah ...” [QS Al-Baqarah : 185]
Pada awalnya puasa Ramadhan bersifat sunnah saja, boleh dikerjakan boleh tidak. Hanya saja barangsiapa yang tidak mengerjakaan membayar fidyah. Sebagaimana hadits Salamah ibn Al-Akwa’ ;
لما نزلت و على الذين يطيقونه فدية طعام مسكين كان من أراد أن يفطر و يفتدي حتى نزلت الآية التي بعدها فنسختها و هي قوله تعالى (( شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن هدى للناس و بينات من الهدى و الفرقان فمن شهد منكم الشهر فليصم ))
“ Ketika turun firman Allah ( dan untuk orang yang berat maka hendaknya membayar fidyah makanan satu orang miskin ) adalah untuk orang yang ingin untuk tidak berpuasa dan membayar fidyahsampai turun ayat ( bulan Ramadhan ….. ).” [ HR. Muslim ]
Yaitu puasa disebabkan oleh nadzar, misal seseorang berkata, “Kalau aku berhasil melaksanakan ini dan itu maka saya akan berpuasa sekian hari.” Untuk penjelasan lebih lanjut silahkan merujuk ke pembahasan nadzar. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala ;
“ Dan hendaklah mereka mengqadha manasik mereka dan menepati nadzarnya dan bertawaf di Ka’bah.” [QS Al-Hajj : 29]
Juga hadits Aisyah radhiyallahu anha bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda ;
من نذر أن يطيع الله فليطعه و من نذر أن يعصيه فلا يعصه
“ Barangsiapa yang bernadzar dengan ketaatan maka hendaknya dia menepati, barangsiapa yang bernadzar dengan maksiat maka janganlah bermaksiat.” [
Disadur dari buku Fiqh Ramadhan karya Abu Harits Al-Jawi
Jombang, 15 Maret 2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar