Kamis, 24 Maret 2022

Ringkasan Fikih Shalat Tarawih

Sholat tarawih merupakan salah satu ibadah yang tak bisa dilepaskan dari bulan Ramadhan. Sholat Tarawih adalah sebutan shalat malam yang dilakukan selepas shalat isya’ baik sebelum tidur ataupun setelahnya selama malam bulan Ramadhan.  Dinamakan tarawih karena para salaf dahulu beristirahat di setiap dua kali salam. Dahulu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam senantiasa melaksanakan shalat tarawih secara berjama’ah dalam rentang waktu beberapa hari. Akan tetapi setelah melihat jumlah jamaah yang ikut dalam shalat tersebut semakin banyak, maka beliau pun meninggalkan sholat tarawih secara berjamaah dan sholat sendiri di rumah. Demikian halnya dengan para sahabat yang lain, hingga datangnya masa kekhalifahan Umar ibn Al-Khaththab radhiyallahu anhu. Beliau melihat kaum muslimin berpencar-pencar ( ada yang sholat sendiri, ada yang dua orang, ada yang tiga orang ) di dalam satu masjid. Maka beliau pun mengumpulkan mereka kembali dalam satu jama’ah untuk melaksanakan shalat tarawih dalam satu imam di dalam satu masjid.

HUKUM SHOLAT TARAWIH

Hukum sholat tarawih secara berjamaah adalah sunnah dan ini yang utama, akan tetapi bila mengerjakan sendiri-sendiri juga tidak mengapa. Dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ;

من قام رمضان إيمانا و احتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

“ Barangsiapa yang berdiri sholat pada bulan Ramadhan dengan rasa iman dan mengharap pahala maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” [HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah]

Dan dalil lainnya adalah ijma’ sebagaimana yang disebutkan dalam Kifayatul Akhyar, berkata penulis kitab ;

و انعقد الإجماع على ذلك

“ Telah terjadi ijma’ atas perkara tersebut.” [Kifayatul Akhyar ( I/88 )]

HIKMAH SHALAT TARAWIH

Ketika Allah Ta’ala menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan yang utama, dan menjadikannya seolah madrasah untuk kaum muslimin. Ramadhan menjadi tempat dan waktu menempa diri, bermuhasabah, melatih jiwa untuk menyelami arti kehidupan dirinya sebagai makhluk ciptaan Allah Ta’ala. Yang mana tempat dan waktu ini membutuhkan perangkat sebagai alat untuk melatih diri. Maka tidak heran bulan Ramadhan menyediakan berbagai macam ibadah-ibadah yang notabennya adalah ibadah-ibadah yang luar biasa tapi sangat jarang sekali terjamah oleh seorang hamba. Salah satunya adalah sholat tarawih ini, dimana di dalamnya dia akan dilatih sebulan penuh berlama-lama berdiri di malam hari untuk bermunajat kepada Allah Ta’ala. Efeknya adalah ketika kita keluar dari bulan Ramadhan, maka kita menjadi hamba yang akan terbiasa atau bahkan candu terhadap sholat malam. Sebagaimana ungkapan mengatakan bahwa sholat malam adalah ciri khas orang-orang sholeh.

TATA CARA PELAKSANAAN SHOLAT TARAWIH

1. Disunnahkan untuk melaksanakan sholat tarawih secara berjama’ah untuk para laki-laki dan sholat sendiri bagi perempuan. Berkata Imam Nawawi ;

قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ الصَّحِيحَ عِنْدَنَا أَنَّ فِعْلَ التَّرَاوِيحِ فِي جَمَاعَةٍ أَفْضَلُ مِنْ الِانْفِرَادِ وَبِهِ

“ Sudah kami sebutkan bahwa yang shahih di sisi kami -madzhab Imam Syafi’I- bahwasanya shalat tarawih secara berjamaah lebih utama dari sholat sendiri.” [Al-Majmu’ ( 4/350)]

Adapun perempuan tetap yang afdhal adalah sholat di rumah. Rasulullah bersabda ;

صلاة المرأة في بيتها أفضل من صلاتها في حجرتها و صلاتها في مخدعها أفضل من صلاتها في بيتها

“ Sholat perempuan di rumahnya itu lebih utama dari sholat di aula ( tempat terbuka untuk umum ) dan sholatnya di kamarnya itu lebih utama dari shalat di rumahnya.” [HR. Abu Dawud dan Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud]

2. Waktunya mulai ba’da shalat isya’ hingga terbit fajar shadiq. Dan boleh dikerjakan sebelum tidur atau sesudahnya dan sebelum shalat witir. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda ;

لا وتران في ليلة

“ Tidak ada dua witir dalam satu malam.” [HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasai dari Talq ibn Aliy]

Jika ingin melakukan tahajjud sedangkan sudah shalat witir sebelumnya maka dengan dua cara ; shalat tahajjud tanpa witir (dan ini yang utama) atau melengkapi witir sebelumnya dengan satu rakaat kemudian shalat witir kembali di akhir tahajjud. Berkata Imam Nawawi ;

و يسن جعله ( الوتر ) آخر صلاة الليل فإن أوتر ثم تهجد لم يعده ، و قيل : يشفعه بركعة ثم يعيده

“ Dan disunnahkan meletakkan witir sebagai akhir shalat malam, jika seseorang sudah witir kemudian ingin tahajjud maka tidak usah mengulang witirnya, atau dia genapkan witir sebelumnya kemudian mengulang witir di akhir tahajjud.” [Minhajut Tholibin hal. 116]

3. Jumlah rakaat 20 rakaat dengan 3 witir dengan dua rakat salam dua rakaat salam. Berkata Imam Nawawi ;

وَاحْتَجَّ أَصْحَابُنَا بِمَا رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ وَغَيْرُهُ بِالْإِسْنَادِ الصَّحِيحِ عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ الصَّحَابِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ " كَانُوا يَقُومُونَ عَلَى عَهْدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ  رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ بِعِشْرِينَ ركعة

“ Dan para sahabat kami berhujjah dengan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan selainya dengan sanad shahih dari As-Saib ibn Yazid berkata (( Dahulu kaum muslimin di zaman Umar ibnul Khaththab shalat di bulan Ramadhan sebanyak 20 rakaat )). Dan dalam hadits yang mursal disebutkan 23 rakaat. Maka Imam Baihaqi pun mengambil kesimpulan 20 rakaat dengan 3 rakaat witir di akhirnya.” [Lihat Al-Majmu’ ( IV/32-33 ) dan Fiqh Manhajiy ( I/239 )]

4. Sholat tarawih dikerjakan dengan 2 rakaat salam 2 rakaat salam, hingga sempurna bilangannya. Berkata Imam Nawawi ;

يَدْخُلُ وَقْتُ التَّرَاوِيحِ بِالْفَرَاغِ مِنْ صَلَاةِ الْعِشَاءِ ذَكَرَهُ الْبَغَوِيّ وَغَيْرُهُ وَيَبْقَى إلَى طُلُوعِ الْفَجْرِ وَلْيُصَلِّهَا رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ كَمَا هُوَ الْعَادَةُ فَلَوْ صَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ بِتَسْلِيمَةٍ لَمْ يَصِحَّ ذَكَرَهُ الْقَاضِي حُسَيْنٌ فِي فَتَاوِيهِ لِأَنَّهُ خِلَافُ الْمَشْرُوعِ

“ Dan waktu shalat tarawih masuk setelah shalat isya’ -sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Baghawiy dan selainnya- hingga terbitnya fajar, dan shalat dengan dua rakaat salamsebagaimana biasanya. Kalau seseorang shalat dengan empat rakaat salam maka tidak sah karena menyelisihi yang disyariatkan sebagaimana disebutkan oleh Al-Qadhiy Husain.” [Al-Majmu ( IV/32 )]

Juga sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika ditanya tentang cara shalat malam beliau menjawab ;

مثنى مثنى فإذا خشي الصبح صلى واحدة فأوترت له ما صلى

“ Dua rakaat dua rakaat, jika takut masuk shubuh maka shalat satu rakaat sebagai pengganjil shalat yang sebelumnya.” [HR. Bukhari dari Abdullah ibn Umar. Lihat Umdatul Ahkam hadits no. 130]

Ini adalah pendapat dalam madzab Imam Syafi’I dan juga pendapat yang kuat. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa sholat tarawih 4 rakaat salam dengan dalil hadits Aisyah ;

ما كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يزيد في رمضان و لا في غيره على إحدى عشرة ركعة يصلي أربعا فلا تسأل عن حسنهن و طولهن و يصلي أربعا فلا 
تسأل عن حسنهن و طولهن ثم يصلي ثلاثا

“ Tidaklah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menambah rakaat dalam shalat malam ramadhan atau selainnya melebihi 11 rakaat, beliau shalat 4 rakaat maka jangan tanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian shalat 4 rakaat maka jangan tanya bagus dan panjangnya, kemudian shalat 3 rakaat.” [HR Bukhari Muslim, lihat Bulughul Maram hadits no. 400]

Ini adalah pendapat yang tidak tepat karena ucapan Aisyah “beliau shalat 4 rakaat…kemudian shalat 4 rakaat…” tidak menunjukkan bahwa beliau salam dalam 4 rakaat. Tapi memang itu adalah saat beliau beristirahat di setiap 4 rakaat shalat malamnya sebagaimana yang sudah kita jelaskan dalam awal buku ini tentang sebab dinamakan sholat tarawih. Wallahu A’lam.

5. Sholat witir dikerjakan di akhir sholat sebanyak 3 rakaat, dengan 2 kali salam.Berkata Imam Nawawi ;

وَالسُّنَّةُ لِمَنْ أَوْتَرَ بِمَا زَادَ عَلَى رَكْعَةٍ أَنْ يُسَلِّمَ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ لِمَا رَوَى ابْنِ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَفْصِلُ بَيْنَ الشَّفْعِ وَالْوِتْرِ وَلِأَنَّهُ يَجْهَرُ فِي الثَّالِثَةِ وَلَوْ كَانَتْ مَوْصُولَةً بِالرَّكْعَتَيْنِ لَمَا جَهَرَ فِيهَا كَالثَّالِثَةِ مِنْ الْمَغْرِبِ وَيَجُوز أن يَجْمَعَهَا بِتَسْلِيمَةٍ لِمَا رَوَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يُسَلِّمُ فِي رَكْعَتَيْ الْوِتْرِ

“ Dan sunnahnya bagi orang yang sholat witir lebih dari satu rakaat hendaknya salam di setiap 2 rakaatnya sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibn Umar bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam memisah antara genap dan ganjil. Dan juga karena beliau shallallahu alaihi wa sallam mengeraskan bacaan di rakaat ketiga, kalaulah dua rakaat pertama bersambung ( diiringi dengan tasyahhud ) tentunya beliau tidak mengeraskan bacaan sebagaimana rakaat ketiga di sholat maghrib. Dan boleh juga dikerjakan dengan sekali salam sebagaimana yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu anha bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidaklah salam di dua rakaat witir.”  [Lihat Majmu’ ( IV/11 ). Adapun hadits Aisyah diriwayatkan oleh An-Nasai dalam Sunannya Bab Kaifal Witr bitsalatsin dan Imam Malik dalam Al-Muwaththa’]

6. Disunnahkan membaca do’a qunut di raka’at terakhir setelah ruku’ pada mulai pertengahan bulan Ramadhan. Adapun do’anya bebas, dan disunnahkan untuk membaca ;

اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ، إِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ

“ Ya Allah tunjukkanlah diriku di dalam orang-orang yang diberi petunjuk, dan jagalah aku di dalam orang-orang yang Engkau jaga, dan lindungi aku di dalam orang-orang yang Engkau lindungi, dan berkahilah atas apa yang Engkau berikan padaku, dan jagalah aku atas keburukan, sesungguhnya Engkau Yang Maha Mentakdirkan dan tidak ditakdirkan, dan tidaklah hina orang yang Kau lindungi, dan tidaklah mulia orang yang memusuhi-Mu, Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi.” [HR. Abu Dawud Bab Al-Qunut fil Witr, Baihaqi dalam judul bab yang sama dari sahabat Al-Hasan ibn Aliy radhiyallahu anhuma]

Berkata Imam Al-Mawardiy ;

قال الشافعي رضي الله عنه:  وَلَا يَقْنُتُ إِلَّا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ إِلَّا فِي النِّصْفِ الْأَخِيرِ مِنْهُ وَكَذَلِكَ كَانَ يَفْعَلُ ابْنُ عُمَرَ، وَمُعَاذٌ الْقَارِي . قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهُوَ صحيح ....
وَدَلِيلُنَا رِوَايَةُ يُونُسَ بْنِ عُبَيْدٍ عَنِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ جَمَعَ النَّاسَ عَلَى أُبَيٍّ وَقَالَ: صَلِّ بِهِمْ عِشْرِينَ رَكْعَةً، وَلَا تَقْنُتْ بِهِمْ إِلَّا فِي النِّصْفِ الْأَخِيرِ، فَصَلَّى بِهِمْ فِي الْعَشْرِ الْأَوَّلِ وَالْعَشْرِ الثَّانِي؛ وَتَخَلَّفَ فِي مَنْزِلِهِ فِي الْعَشْرِ الثَّالِثِ فَقَالُوا أَبَقَ أُبَيُّ وَقَدَّمُوا مُعَاذًا فَصَلَّى بِهِمْ بَقِيَّةَ الشَّهْرِ وَقَنَتَ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ. فَدَلَّ ذَلِكَ مِنْ فِعْلِهِمْ عَلَى أَنَّ الْقُنُوتَ سُنَّةٌ فِي النِّصْفِ الْأَخِيرِ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ لَا غَيْرَ

“ Berkata Imam Syafi’i ; dan tidaklah qunut di bulan Ramadhan kecuali di separuh akhir di bulan Ramadhan demikianlah yang dilakukan oleh Ibn Umar dan Muadz Al-Qariy, berkata Al-Mawardi : ini yang benar…… dan dalil kami adalah riwayat Yunus Ibn Ubaid dari Al-Hasan ibn Umar ibnul Khaththab radhiyallahu anhu beliau mengumpulkan manusia atas Ubaiy - ibnKa’ab - dan berkata : imamilah mereka 20 rakaat dan janganlah qunut kecuali di separuh akhir, maka beliau pun mengimami mereka di sepuluh hari pertama dan kedua, dan beliau tidak datang pada 10 hari terakhir maka manusia berkata : Ubaiy tidak keluar, maka Muadz - ibn Jabal - pun mengimami mereka di sisa hari dan qunut di sepuluh hari terakhir. Ini menunjukkan bahwa qunut sunnah di separuh akhir dari bulan Ramadhan…”  [Lihat Al-Hawiy Al-Kabir ( II/291-292 )]

Wallahu Ta'ala A'lam
Disadur dari buku Fiqh Ramadhan
Karya Abu Harits al-Jawi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar