Rabu, 06 April 2022

Jumlah Rakaat Tarawih

Berikut kami akan sebutkan beberapa hadits dan riwayat yang berhubungan dengan jumlah rakaat dalam shalat malam, yang mana juga berhubungan dengan jumlah rakaat shalat tarawih.

Pertama, adalah hadits Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, dimana didalamnya disebutkan tentang jumlah rakaat shalat malam yang Nabi ﷺ shalat yaitu 13 rakaat (dengan asumsi witir satu rakaat);

فصلى ركعتين ثم ركعتين ثم ركعتين ثم ركعتين ثم ركعتين ثم ركعتين ثم أوتر

"... Lalu beliau shalat dua rakaat lalu dua rakaat lalu dua rakaat lalu dua rakaat lalu dua rakaat lalu dua rakaat lalu witir (mengganjilkannya)... "
[HR. Tirmidzi dalam Syamailnya no. 265]

Asumsi shalat Nabi ﷺ di atas adalah 13 rakaat, diperkuat dengan riwayat lain dari sahabat Ibnu Abbas juga, dimana beliau berkata;

كان النبي صلى الله عليه و سلم يصلي من الليل ثلاث عشرة ركعة

"Adalah Nabi ﷺ beliau shalat malam tiga belas rakaat."
[HR. Tirmidzi dalam Syamailnya no. 266]

Kedua, hadits Zaid ibn Kholid al-Juhaniy radhiyallahu anhu yaitu tiga belas rakaat juga, dimana beliau mengatakan;

... فصلى رسول الله صلى الله عليه و سلم ركعتين خفيفتين ثم صلى ركعتين طويلتين طويلتين طويلتين ثم صلى ركعتين و هما دون اللتين قبلهما ثم صلى ركعتين و هما دون البتين قبلهما ثم صلى ركعتين و هما دون اللتين قبلهما ثم صلى ركعتين و هما دون اللتين قبلهما ثم أوتر فذلك ثلاث عشرة ركعة

"... Lalu Nabi ﷺ shalat dua rakaat ringan, kemudian shalat dua rakaat panjang, panjang, panjang. Lalu beliau shalat dua rakaat yang lebih pendek dari sebelumnya, lalu beliau shalat dua rakaat yang lebih pendek dari sebelumnya, lalu beliau shalat dua rakaat yang lebih pendek dari sebelumnya, lalu beliau shalat dua rakaat yang lebih pendek dari sebelumnya, lalu beliau witir. Dan jumlahnya adalah tiga belas rakaat."
[HR. Tirmidzi dalam Syamailnya no. 269]

Ketiga, hadits Aisyah radhiyallahu anha, yaitu sebelas rakaat beliau berkata;

ما كان رسول الله ليزيد في رمضان و لا في غيره على إحدى عشرة ركعة يصلي أربعا لا تسأل عن حسنهن و طولهن ثم يصلي أربعا لا تسأل عن حسنهن و طولهن ثم يصلي ثلاثا... 

"Tidaklah Nabi ﷺ menambah (jumlah rakaat) disaat bulan Ramadhan atau selainnya melebihi sebelas rakaat. Beliau shalat empat rakaat dan jangan tanya bagaimana bagusnya dan panjangnya shalat beliau, lalu shalat empat rakaat dan jangan tanya bagaimana bagusnya dan panjangnya shalat beliau. Lalu beliau shalat tiga rakaat..."
[HR. Tirmidzi dalam Syamailnya no. 270]

Namun dalam riwayat yang lain, sayyidah Aisyah pernah menuturkan bahwa Nabi juga pernah shalat sembilan rakaat. Beliau berkata;

كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يصلي من الليل تسع ركعات

"Adalah Nabi ﷺ shalat malam sembilan rakaat."
[HR. Tirmidzi dalam Syamailnya no. 273]

Jikalau ada yang mengatakan, bahwa kemungkinan hadits Aisyah yang sembilan rakaat belum termasuk witir, maka anggapan ini marjuh (lemah), karena sembilan itu sudah masuk hitungan witir (ganjil). 

Keempat, tarawih di zaman khilafah Umar radhiyallahu anhu, yaitu sebelas rakaat, dan dalam riwayat lain dua puluh tiga rakaat. Sebagaimana dalam riwayat as-Saib ibn Yazid beliau berkata;

أَمَرَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ وَتَمِيمًا الدَّارِيَّ أَنْ يَقُومَا لِلنَّاسِ بِإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، وَكَانَ الْقَارِئُ يَقْرَأُ بِالْمِئِينَ حَتَّى كُنَّا نَعْتَمِدُ عَلَى الْعِصِيِّ مِنْ طُولِ الْقِيَامِ، وَمَا كُنَّا نَنْصَرِفُ إِلَّا فِي فُرُوعِ الْفَجْرِ

"Umar ibn al-Khoththob memerintahkan Ubay ibn Ka'ab dan Tamim ad-Dāri radhiyallahu anhum untuk mengimami manusia sebanyak sebelas rakaat. Dan disitu dibacakan ratusan ayat, hingga kami bertumpu pada tongkat karena begitu lamanya waktu berdiri, dan kami tidak selesai kecuali dekatnya waktu fajar."
[HR. al-Baihaqi dalam Sunan Kubro-nya (2/698)]

Adapun riwayat Yazid ibn Ruman, maka tarawih di zaman Umar adalah dua puluh tiga rakaat. Beliau berkata;

كَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ فِي زَمَانِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي رَمَضَانَ بِثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً

"Bahwa manusia shalat malam (tarawih) di zaman Umar radhiyallahu anhu saat Ramadhan sebanyak dua puluh tiga rakaat."
[HR. al-Baihaqi dalam Sunan Kubro-nya (2/699)]

Disini, Imam al-Baihaqi asy-Syafii (w. 458 H) mendudukkan dari riwayat jumlah rakaat yang berbeda di zaman Umar radhiyallahu anhu, dimana beliau berkata;

وَيُمْكِنُ الْجَمْعُ بَيْنَ الرِّوَايَتَيْنِ، فَإِنَّهُمْ كَانُوا يَقُومُونَ بِإِحْدَى عَشْرَةَ، ثُمَّ كَانُوا يَقُومُونَ بِعِشْرِينَ وَيُوتِرُونَ بِثَلَاثٍ، وَاللهُ أَعْلَمُ

"Dan mungkin untuk dikompromikan diantara dua riwayat di atas, bahwa pada awalnya memang tarawih di zaman Umar dilaksanakan sebanyak sebelas rakaat. Kemudian mereka merubah menjadi dua puluh tiga rakaat. Wallahu A'lam."
[Sunan Kubro, al-Baihaqi, (2/699)]

Dari pemaparan berbagai riwayat dia atas kita akan tahu, bahwa ternyata jumlah rakaat dalam shalat malam (termasuk shalat tarawih) itu bermacam-macam. Bahkan sulit untuk menentukan bahwa jumlah ini lebih sunnah dari jumlah itu. Misal, seorang mengatakan yang lebih sunnah adalah sebelas rakaat, karena berpedoman pada hadits Aisyah. Maka bisa dijawab, bahwa riwayat dari sayyidah Aisyah sendiri pun ada yang mengatakan Nabi shallallahu alaihi wa sallam shalat malam hanya sembilan rakaat. Oleh karenanya, yang menarik adalah kesimpulan dari Mbah Fadhol Senori Tuban (w. 1989 M) dalam kitab beliau Kasyfut Tabārih, dimana beliau berkata;

و لما كانت تلك الأحاديث متعارضة و محتملة للتأويل لم يقم بها الحجة في إثيات ركعات التراويح لتساقطها فعدلنا عن الاستدلال بها إلى الدليل القاطع و هو الإجماع و هو إجماع المسلمين في زمن عمر رضي الله عنها على فعلها عشرين

"Dan ketika hadits-hadits tersebut saling bertentangan dan berkemungkinan untuk ditakwilkan, maka tidak bisa begitu saja menjadi hujjah karena satu sama lain saling menjatuhkan. Maka kami (Syafi'iyyah) pun tidak mengambilnya sebagai dalil dan kami berpindah pada dalil lain yang pasti (qothi'). Yaitu ijma', kesepakatan kaum muslimin di zaman Umar radhiyallahu anhu dimana tarawih dikerjakan dua puluh rakaat (belum termasuk witir -edt)."
[Kasyfut Tabarih fi Bayan Shalat at-Tarawih, Abul Fadhl as-Sinnūri ath-Tubani]

Beliau juga menyebutkan suatu kaidah;

إذا طرأ الإحتمال على وقائع الأحوال كساها ثوب الإجمال و سقط بها الاستدلال

"Jika terjadi kemungkinan pada bagian-bagian peristiwa maka dianggapkan dia suatu yang mujmāl (masih umum butuh pada bayan atau penjelasan lebih lanjut -edt), dan dia (yang mujmal) tidak bisa dijadikan landasan dalam berdalil."
[Idem]

Kesimpulan, bahwa dalam masalah jumlah rakaat shalat tarawih, memang ada khilaf. Oleh karenanya mari kita saling berlapang dada untuk menyikapi perbedaan ini.

Wallahu Ta'ala A'lam

Kota santri Jombang
5 Ramadhan 1443 H / 7 April 2022 M
Abu Harits al-Jawi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar