Rabu, 13 April 2022

Puasa Lahir Batin

KHUTBAH PERTAMA

إن الحمد لله نحمده و نستعينه و نعوذ بالله من شرور أنفسنا و من سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له و من يضلله فلا هادي له. أشهد أن لا إله إلا الله و أشهد أن محمدا رسول الله. فيآ عباد الله اتقوا الله ربكم كما أمركم به ﴿ يآيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته و لا تموتن إلا و أنتم مسلمون ﴾. و ﴿ يآيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة و خلق منها زوجها و بث منهما رجالا كثيرا و نساءً و اتقوا الله الذي تساءلون به و الأرحام إن الله كان عليكم رقيبا ﴾ أما بعد، و يآ عباد الله اتقوا الله ربكم فإن أكرمكم عند الله أتقاكم

Ma’asyiral Muslimin jamaah sidang jumat rahimakumullah
Segala bentuk puji dan syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah ﷻ , yang telah memberikan kesempatan kita untuk berjumpa dengan bulan Ramadhan tahun ini. Memebrikan kesempatan kepada untuk kembali mengabdi dan menyembah-Nya dengan berbagai macam peribadatan yang telah Dia syariatkan kepada kita. Shalawat serta salam selalu terhaturkan kepada baginda Rasulillah Muhammad ﷺ sebagai tauladan kita dalam segala aspek kehidupan dunia. Dan pada kesempatan yang singkat ini, mari kita tingkatkan kembali rasa iman dan takwa kepada Allah ﷻ .

Ma’asyiral Muslimin jamaah sidang jumat rahimakumullah
Ramadhan adalah sebuah madrasah yang Allah ﷻ ciptakan untuk kaum muslimin dalam mengolah jiwa dan raga manusia. Dalam Ramadhan kita dituntut untuk melaksanakan kewajiban puasa, yang mana dalam puasa kita dilarang makan dan minum, juga berhubungan suami istri di siang hari. Yang mana di hari-hari biasanya, hal itu semua adalah boleh, bahkan bisa bernilai sunnah jika diniatkan dengan benar. Namun, dalam puasa kita dituntut untuk menundukkan nafsu diri kita, dalam rangka mentaati perintah Allah ﷻ . Yang mana, Allah ﷻ firmankan dalam kitab-Nya yang mulia;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan (puasa tersebut) atas orang-orang sebelum kalian. Semoga kalian menjadi hamba-hamba yang bertaqwa.” [QS al-Baqarah : 183]

Ma’asyiral Muslimin jamaah sidang jumat rahimakumullah
Taqwa adalah main point atau titik utama dalam pensyariatan puasa dalam ayat di atas. Maka, taqwa ini harus bisa diwujudkan dan direalisasikan, baik ketika menjalankan puasa selama bulan Ramadhan, atau setelah kita melalui bulan Ramadhan. Jadi, taqwa bukan hanya sekedar tujuan yang didapatkan di akhir, melainkan juga harus menyertai dalam proses menuju tujuan tersebut.

Oleh karenanya, puasa bukan hanya sekedar masalah tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan suami istri, atau pembatal puasa yang lainnya.

Namun, lebih jauh dari itu, puasa adalah menahan nafsu diri kita, baik secara lahir (yang tampak) ataupun bathin (yang tidak tampak atau ruhani). Bukan hanya makan minum yang kita tahan, namun sifat-sifat tercela hendaknya juga ditahan. Demikian pula dosa-dosa dan maksiat juga hendaknya kita jauhi. Sebagaimana dalam hadits yang shahih bahwa Rasulullah ﷺ bersabda;

و إذا كان يوم صوم أحدكم فلا يرفث و لا يصخب -و في رواية: و لا يجهل- فإن سابه أحد أو قاتله فليقل؛ إني صائم

“Jika salah seorang kalian berpuasa maka janganlah dia berhubungan suami istri atau berkata keji, dan juga berucap dengan yang tidak selayaknyanya -dan dalam satu riwayat: janganlah dia berbuat bodoh-. Lalu jika ada orang yang mencelanya atau memeranginya maka katakanlah; aku sedang puasa.” [HR. Bukhari (1894) dan Muslim (1151)]

Puasa, berarti juga menahan diri dari segala perangai dan sifat buruk dan tercela. Baik berupa kata-kata kotor, atau berteriak-teriak dengan sesuatu yang tidak layak secara adat istiadat masyarakat (ash-shokhb), demikian juga dengan perbuatan-perbuatan bodoh yang tidak ada faedah baik dunia maupun akhirat. Inilah yang disebutkan dalam hadits tersebut, yang mana mungkin sebagian orang merasa hal itu adalah hal yang tidak termasuk dosa, atau hal tersebut masuk dalam ranah penjagaan muru’ah atau martabat sebagai seorang muslim, namun sekali lagi, Ramadhan adalah madrasah olah jiwa dan raga bagi hamba. Maka hal tersebut pun dilarang, apalagi yang sifatnya adalah dosa dan kemaksiatan yang disepakati. Sebagaimana dalam hadits shahih bahwa Rasulullah ﷺ bersabda;

من لم يدع قول الزور و العمل به فليس لله حاجة بأن يدع طعامه و شرابه

“Siapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh dari orang tersebut dari meninggalkan makan dan minumnya (puasa).” [HR.Bukhari (1903), Abu Dawud (2362), Tirmidzi (707) dan ini lafadz beliau]

Ma’asyiral Muslimin jamaah sidang jum’at rahimakumullah
Ketika bulan Ramadhan dan kita berpuasa, janganlah hanya memperhatikan dari sisi hukum fikih saja. Kita juga harus perhatikan sisi hikmah, suluk, tazkiyatun nafs, dan penyucian jiwa yang ada di dalamnya. Bukan hanya yang penting tidak makan minum dan berhubungan suami istri saja, namun juga tidak melakukan hal-hal yang berbau maksiat dan dosa meskipun itu kecil atau dipandang remeh di mata manusia. Dan inilah makna taqwa tersebut, dimana kita berusaha menghindari sejauh mungkin dari adzab dan murka Allah, dengan cara semakin mendekatkan diri kepada Allah ﷻ . Oleh karenanya Muhammad putra sayyidina Ali radhiyallahu anhu atau yang lebih dikenal dengan nama Muhammad ibn al-Hanafiyyah rahimahullah (w.80 H) berkata;

ليصم سمعك و بصرك و لسانك و بدنك فلا تجعل يوم فطرك مثل يوم صومك

“Hendaknya berpuasa (juga) pendengaranmu, penglihatanmu, lisanmu, dan badanmu. Maka, jangan kau samakan antara hari tidak berpuasa dengan hari yang kau berpuasa.” [Fadhoil Ramadhan, Ibn Abi Dunya, hal. 68]

أقول قولي هذا و أستغفر الله و لكم و لسائر المسلمين و المسلمات و المؤمنين و المؤمنات فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

KHUTBAH KEDUA

الحمد لله الذي هدانا لهذا و ما كنا لنهتدي لو لا أن هدانا الله، ثم الصلاة و السلام على النبي المصطفى و آله و صحابته البررة. فيآ عباد الله اتقوا الله كما أمر به ربكم في تنزيله ﴿ يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته و لا تموتن إلا و أنتم مسلمون ﴾، أما بعد

Ma’asyiral Muslimin jamaah sidang jumat rahimakumullah
Akhirnya, kita adalah hamba yang lemah. Yang tidak memiliki daya dan upaya. Tidak memiliki sedikitpun kuasa. Hanya bisa memohon, meringkuh, merunduk, dan meminta kepada Allah ﷻ sebagai Pencipta dan Penguasa semesta. Agar, kita dijadikan hamba-hamba yang sadar dengan hakikat dirinya, hakikat puasanya, sehingga gelar taqwa bisa layak tersemat kepada dirinya.

إن الله و ملائكته يصلون على النبي يآيها الذين آمنوا صلوا عليه و سلموا تسليما، اللهم صل على محمد و على آل محمد و الحمد لله رب العالمين

اللهم اغفر للمسلمين و المسلمات و المؤمنين و المؤمنات الأحياء منهم و الأموات إنك قريب مجيب الدعوات يا قاضي الحاجات

اللهم ربنا ظلمنا أنفسنا و إن لم تغفر لنا و ترحمنا لنكونن من الخاسرين

اللهم هب لنا من أزواجنا و ذرياتنا قرة أعين و اجعلنا للمتقين إماما

اللهم أرنا الحق حقا و ارزقنا اتباعه و أرنا الباطل باطلا و ارزقنا اجتنابه

اللهم تقبل منا صيامنا و قيامنا و دعاءنا و ركوعنا و سجودنا و تضرعنا

اللهم أمنا في أوطاننا و أصلح ولاة أمورنا، اللهم سدد خطاهم و اهدهم إلى صراطك المستقيم

ربنا آتنا في الدنيا حسنة و في الآخرة حسنة و قنا عذاب النار

و صلى الله على سيدنا محمد و على آله و صحبه أجمعين و الحمد لله رب العالمين

أقيموا الصلاة . . .

_
Wallahu Ta'ala A'lam
13 Ramadhan 1443 HJombang Kota Santri
Abu Harits al-Jawi

Download pdf khutbah jumat disini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar